Cinta Tanpa Syarat


Cinta Tanpa Syarat
Oleh : Achmad Siddik Thoha

Sudah lama pemuda itu tidak berjumpa dengan orang tuanya. Ia sangat rindu dengan Ayah dan Bundanya yang jauh dari tempatnya kini tinggal. Ia kini tinggal di sebuah kota dengan pekerjaan yang tidak menentu. Rasa rindu itu tak tertahankan. Ia memutuskan untuk menelepon orang tuanya.

”Ayah, ini aku, bagaimana kabar Ayah dan keluarga?”

“Oh, Anakku, senang sekali Ayah mendengar suaramu, Nak. Sudah hampir lima tahun kamu tidak pulang dan tidak memberi kabar. Bagaimana kabarmu, Nak? Ayah pemuda itu balik bertanya

“Aku baik-baik saja, Ayah. Aku sebenarnya mau pulang. Tapi aku mau bertanya dulu pada Ayah.”

“Apa itu, Nak?” Suara Ayahnya di telepon menggema keras.

”Ayah, seandainya aku membawa temanku untuk tinggal di rumah Ayah, apakah Ayah bersedia menampungnya?” Pinta si pemuda..

”Tak, apa, bawa saja dulu temanmu, yang penting kamu sampai di rumah dulu.” Desak Si Ayah.

”Tapi, Ayah mau tidak, temanku itu cacat. Kakinya buntung dan harus selalu digendong atau perlu kursi roda untuk menuju suatu tempat.”

”Bagaimana, ya?.” Suara Ayahnya di telepon senyap sejenak. Sepertinya Si Ayah sedang berbicara dengan ibunya.

”Wah, tidak usah lah, Nak. Kalau cacat malah nanti merepotkan kita. Sudah, kamu tinggalkan saja dia. Kamu sendiri segera pulang kemari.” Kata Si Ayah

”Tapi, dia akan kesepian di kota ini Ayah, kalau tidak tinggal di rumah kita.” Nada suara memelas keluar dari mulut si pemuda.

”Tidak, Ayah dan Ibumu tidak setuju. Lebih baik dia tidak usah kamu bawa pulang. Urus saja dirinya sendiri disana. Merepotkan kami saja.” Tegas Ayah pemuda itu.

”Baiklah, Ayah.” Pemuda itu langsung menutup teleponnya.

Dua pekan kemudian, Ayah si pemuda itu mendapat telepon dari sebuah Rumah Sakit (RS) di kota besar. Si Ayah segera pergi RS tersebut karena ada keluarganya dikabarkan meninggal.kabar bahwa keluarganya meninggal.

Tiba di RS, Si Ayah dibawa ke kamar mayat oleh petugas. Saat si ayah menyingkap kain penutup mayat, ia terkejut. Mayat itu ternyata anaknya yang dua pekan lalu menelponnya. Ketika kain penutup itu disingkap hingga kaki, si ayah tak bisa menahan tangisnya. Ternyata kaki anaknya buntung.

Lalu seorang pemuda menepuk pundak si ayah dan berkata,

”Bapak, saya teman dekat anak Bapak. Setahun lalu dia mengalami kecelakaan hingga kakinya harus diamputasi. Awalnya dia bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan. Sejak kecelakaan, dia diberhentikan dan beralih bekerja sebagai tukang sol sepatu di pinggir rel ketera api. Saya sangat sedih, dua pekan ini dia terus menangis dan mengurung diri dirumah petaknya. Dia tidak mau makan dan minum. Sampai akhirnya dia sakit. Makin hari sakitnya semakin parah. Hari ini kami, teman-temannya, memutuskan membawanya ke RS. Kami menyesal, Pak. Dia sudah tak bernyawa lagi saat kami sudah tiba di gerbang RS.”

Mendengar cerita teman anaknya, si ayah menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah telah menyelimuti dirinya. Ia telah mengabaikan anaknya yang seharusnya dicintainya tanpa syarat. Ia harusnya mau menerima anaknya, sehat atau sakit, sempurna fisik atau cacat, baik atau buruk karena dia adalah titipan dari-Nya.

***

Sahabat, cinta tak membutuhkan syarat apapun. Cinta tak peduli kondisi. Baik atau buruk, sempurna atau cacat, pintar atau terbelakang, sehat atau sehat, bila cinta bersemayam dalam hati kondisi itu tak merubah kadar cinta sedikitpun. Cinta kadang tumbuh subur dalam keterbatasan. Cinta seringkali bersemi saat duka mendera. Cinta justru mekar dan mewangi tatkala ujian menimpa.

Bila cinta sudah mengharuskan syarat tertentu, ia takkan menjadi energi kebaikan. Bila cinta mensyaratkan kecantikan, kekayaan, kebangsawanan dan kesempurnaan materi, ia takkan bisa memberi kebaikan apapun bahkan pada diri sendiri. Cinta hanya mensyaratkan tidak melebihi dari cinta manusia pada-Nya, Sang Maha Cinta. Cinta pada-Nya diatas segala cinta.

Sahabat, bila cinta lepas dari ketergantungan syarat, maka ia tumbuh dan berkembang seperti pohon yang besar dan berbuah lebat. Pohon itu tak hanya memberi kebaikan pada diri sendiri, tapi ia memberi kebaikan pada lingkungan tanpa henti. Saat pohon mati, ia telah mewariskan cinta pada benih yang ditaburnya sehingga cintanya akan terus tumbuh. Bahkan pada orang yang akan menebangnya, pohon tetap memberi kebaikan.

True love is never ending. The True Love is unconditional. This is the Love of Tress.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • 36,769 hits

Archives

Twitter Updates

%d bloggers like this: