Tiga Macam Cermin


Padepokan di puncak bukit itu tak sekedar tempat menuntut ilmu kanuragan. Padepokan itu juga terkenal melahirkan pendekar berhati mulia. Lulusan padepokan itu umumnya menjadi penyebar kebaikan dari hati ke hati dibandingkan mengandalkan kekuatan fisik.

Pagi yang cerah, sang guru memanggil tiga orang murid yang dianggapnya sudah senior. Menurut sang guru, diantara tiga orang muridnya ini ada salah satu yang bisa menggantikannya kelak. Sang guru kemudian menyuruh pembantunya untuk tiga murid senior.

Setelah tiga murid itu berkumpul, berkatalah sang guru,
”Muridku, besok aku mau pergi ke kota. Belum tahu sampai kapan aku disana. Padepokan ini harus tetap menjalankan fungsinya mendidik para murid yang belajar. Jadi, aku mohon kalian bisa membantuku mengajar murid-murid yang lebih muda dari kalian. Kalian siap?”

”Siap, Guru! Serempak mereka menjawab permintaan Sang Guru.

” Aku ada titipan yang harus kalian pelihara dengan baik. Saat aku datang kembali nanti, cermin-cermin ini harus kalian serahkan kembali. Paham?”

”Paham, Guru!
Setelah Sang guru pergi ketiga murid itu menyimpan baik-baik cermin titipan sang guru.
Ada yang menyimpan cermin itu di luar kamar hingga terpapar udara luar. Ada juga yang menyimpan rapi cermin di dalam lemari. Ada pula murid yang menempelkannya di dinding kamar.

Suatu pagi, ketiga muridnya dikejutkan dengan kedatangan pembantu sang guru yang tergopoh-gopoh.

”Kalian ditunggu guru di pendopo. Cermin yang beliau titip, tolong dibawa.” ucapan pembantu sang guru ditanggapi beragam oleh ketiga murid ini. Ada yang merespon biasa saja, ada yang panik dan ada pula yang gembira.

“Apa kabar, muridku? Kalian pasti kaget dengan kepulanganku?” sambut sang guru dengan senyum yang merekah.

”Kami baik-baik saja, guru.” Ucapan ketiga murid hampir serentak.

”Mana cermin titipanku? Kalian membawanya, kan?” tanya sang guru.
Dengan cepat ketiga murid menyerahkan cermin masing-masing pada gurunya.

Sang guru mengambil satu cermin dan mengamatinya. Cermin itu tampak kusam dan sudah buram. Dia tahu, cermin ini pasti terpapar udara luar dan jarang dibersihkan sehingga menjadi kusam.
”Cermin yang kusam” Desahan nafas sang guru seolah menunjukkan rasa kurang suka dengan benda yang dipegangnya

Sang guru kemudian beralih pada cermin lain. Cermin itu penuh dengan noda. permukaanya lembab dan penuh bercak noda oleh jamur.
”Pasti cermin ini disimpan dalam tempat yang tertutup rapat, dibungkus dan tak pernah dibersihkan. Cermin penuh bercak” gumam sang guru.

Tibalah pada cermin terakhir. Sang guru terkesima dengan kilatan permukaaan cermin terakhir ini. Permukaannya bersih dan bayangan yang dipantulkan cermin demikian terang. Dengan senyum terkulum, Sang guru berkomentar pelan.
“Cermin yang jernih dan terpelihara,” Sang guru bernafas lega. Sepertinya dia sudah menemukan calon pengantinya kelak.

Sambil mengangkat cermin kusam, Sang guru memberikan nasehatnya
“Muridku, aku tahu apa kalian lakukan pada cermin titipanku ini. Cermin kusam ini pasti diletakkan diluar sehingga terpapar panas, dingin, debu dan kotoran lain. Cermin ini sangat mudah kotor dan bila tidak segera dibersihkan akan membuat permukaan baru yang kusam”

”Cermin yang disimpan dalam tempat tertutup tidak menjamin akan terpelihara kebersihannya. Ada jamur yang siap menempel dan melukis noda karena udara lembab yang sangat disukainya. Bila noda itu tidak segera dibersihkan, maka bercak di permukaan cermin tentu sulit dihapus.” Sang guru menunjuk pada cermin penuh bercak.

”Bila ingin cermin tetap bersih, bening dan memantulkan cahaya yang terang, contohlah Cermin ini. Cermin ini pasti diletakkan pada tempat yang terjaga dan terawat dengan baik.” Sang guru mengambil cermin yang jernih dan terawat.

Sahabat, bila cermin itu adalah hati kita, bagaimana kita memperlakukannya? Hati ibarat cermin yang bisa menerima dan memantulkan cahaya iman dan menggerakkan seluruh tubuh berbuat kebaikan atau melakukan keburukan. Hati yang jernih dan terpelihara dari kotoran, akan mudah menangkap dan memantulkan cahaya kebaikan. Cahaya kebaikannya begitu jelas dan membuat penerima cahaya menjadi terpukau akan keindahannya.

Cermin kusam dan penuh bercak diakibatkan karena dosa yang kita lakukan. Hati yang berada pada lingkungan penuh paparan perbuatan buruk akan sangat cepat kotor. Bila tidak dibersihkan dengan cepat dan memakai pembersih yang ampuh, maka hati kita akan akan membuat permukaan kusam hinga cermin sulit menerima dan memantulkan cahaya.

Demikian pula bila hati dibiarkan menyendiri tanpa didikan dan latihan akan melahirkan keangkuhan, kesombongan dan merasa sudah suci dari dosa. Ini justru melahirkan dosa yang tak kalah buruknya dampaknya pada hati. Hati menjadi penuh bercak noda dan kemudian menghalangi cahaya iman masuk dan memantul.

Saat berbuat dosa, hati manusia yang tadinya jernih dan mengkilap akan mulai tertempeli kotoran dan bercak hitam hingga kusam dan ternoda. Semakin banyak dosa, maka bercak hitam dan kotoran pada hati semakin banyak. Hati seperti itu akan sulit menyerap cahaya iman dari-Nya. Hati tersebut sulit memancarkan cahaya kebaikan bagi sekitarnya. Bahkan manusia yang berhati penuh kotoran dan bercak tidak tahan menerima ujian dan cobaan hidup. Manusia penuh bercak dosa dalam hatinya terlihat tidak mempunyai semangat berbuat kebaikan bagi sesama bhakan menyelesaikan masalahnya sendiri sering tidak sanggup.

Sahabat, berhati-hatilah pada perbuatan dosa. Perbuatan dosa hanya akan menambah lapisan kotor pada hati. Kotoran dan bercak dosa pada hati kita akan mengurangi hati menyerap cahaya ilahi sehingga jiwa akan merasa kekurangan ”gizi dan begitu kering kerontang. Makanan untuk jiwa akan berkurang dengan banyaknya dosa dalam hati ini. Bila hati kurang makanan, ia akan sakit dan lama-kelamaan akan mati. Hati dosa juga tak punya daya pantul kebaikan bagi lingkungan. Bagaimana bisa memantukan cahaya, menyerap cahaya saja tidak mampu.

Namun karena kelemahan kita, lapisan kotor itu ada dalam hati kita. Maka segera singkirkan lapisan dosa itu dengan memohon ampun pada-Nya. Jangan biarkan lapisan dosa menumpuk akhirnya berubah menjadi kerak yang mengeras dan membatu, Dosa yang mengerak dan membatu akan sulit hilang dan terhapus. Tidak ada dosa besar bila segera memohon ampun pada-Nya. Tak ada dosa kecil bila terus-menerus ditumpuk tak pernah dihapus dengan permohonan ampun.

Achmad Siddik Thoha
achmadsiddik@hotmail.com

*****

Sahabat POHON INSPIRASI (PI), bila Sahabat merasakan manfaat dan ingin berbagi pada orang lain, ajaklah mereka bergabung di Grup ini. Berikut caranya :
1. Ketik POHON INSPIRASI di kotak search
2. Klik join atau gabung ke grup POHON INSPIRASI (kita hanya bisa mengundang jika kita anggota grup).
3. Klik “Undang Orang untuk Bergabung” (tepat dibawah gambar profil POHON INSPIRASI) lalu klik foto teman-teman
4. Klik Kirim Undangan (Dibagian kiri bawah)
5. Atau Klik “Bagikan+ (Share)” pada halaman awal Grup agar Grup ini muncul di Dinding Anda
6. Terima kasih

Semoga menjadi jalan kebaikan bersama.

Kami juga menerima tulisan dan renungan dari Sahabat PI untuk bisa dibagikan pada seluruh anggota via pesan inbox.

”Dua pilihan agar kita bisa memberikan cahaya; pertama menjadi lilin yang menjadi sumber cahaya atau menjadi cermin yang memantulkannya”

Salam

—–Admin—–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • 36,769 hits

Archives

Twitter Updates

%d bloggers like this: